this blog give youknowledge about islam and others

BANNER 728X90

cerpen kisah cinta santri



Kisi-Kisi Cintaku
            Suatu hari di mana santri pondok Al-Hidayah sedang sibuk dengan haul akbar yang di laksanakan rutin 1 tahun sekali, berbeda dengan Syafa yang sedang memikirkan perkataan ibunya bahwa dia sudah di jodohkan sama putra teman abinya, “abi sudah menjodohkanmu dengan putra temannya yakni M Rizki Al-Gifari”tutur ibunya. “hey,,,, kenapa bengong ada masalah atau jangan –jangan ukhti lagi kefikiran putra yai yang baru pulang dari Kairo Mesir itu yac,,,,, ayo ngaku??” tiba-tiba Lail sudah ada di sampingku sambil menggodaku, “ich,,,, apa sih ukhti ya gak lah, uk
cerpen indah nan haru kisah santri sedih banget
hti kan sudah tau kalau ana ini siapa dan beliau itu siapa?”, “ya udah kalau begitu, ikut ana aja, di depan tuh masih banyak pekerjaan daripada ukhti bengong di sini gak jelas”.
            Jam menunjukkan 21:00 dan acara haul akbarpun usai dengan lancar seperti yang sudah di harapkan. 1 bulan setelah haul akbar ternyata gus Fahri menyimpan rasa pa Syafa yang setiap pagi selalu membersihkan dhalem, “ukhti boleh ana minta tolong?” tanya gus Fahri yang sedang memandang Syafa dengan kagum, namun syafa hanya menunduk tak berani memandang wajah tampan gus Fahri yang baru saja melewatinya. “Ya Allah apa yang hamba ini rasakan kenapa hati ini begitu bergetar saat gus fahri lewat di depan hamba”, “ ukhti kenapa melamun, bukannya ana menyuruh membersihkan kamar ana”, tanpa di sadari Syafa ternyata gus Fahri seadri tadi memperhatikan wajah Syafa, tanpa menjawab dan tetap menunduk Syafa pergi ke kamar gus Fahri. Di dalam kamar, Syafa menceritakan pada Lail bahwa ia sudah di jodohkan dengan putra teman abinya yang baru menyelesaikan S1nya di Kairo, dan ia juga menceritakan kalau ia menyukai gus Fahri yang tak lain adalah putra Kiainya sendiri, “ ukhti,,,, yang sabar saja ya, ana yakin orangtua ukhti tidak akan memilih imam yang salah buat ukhti, percayalah!!”, “ terimakasih ya ukhti, ukhti memang sahabat yang baik”, “ ya sama-sama”, “ngomong-ngomong, gimana dengan hubungan ukhti dengan Rizki, sepupu ukhti”, tanya syafa sambil menyeka airmata yang sedari tadi ia coba menahan tapi tanpa sadar air matanya pun jatuh, “yaaah..... begitulah ukhti!!”, jawab Lail sambil tersipu malu, “doakan saja semoga bisa sampai ke pelaminan amin!!!!” .
            Keesokan harinya, Lali melihat Syafa tengah menangis di pangkuan ibunya setelah kepulangan ibunya, Syafa langsung masuk kamar dengan mata sembab, “ ukhti..!!, kenapa menangis??, ada apa.. cerita dong sama ana”, Syafa hanya menggeleng sebagai isyarat dia belum bisa cerita sekarang, “kalau memang ukhti belum bisa cerita sekarang ya.. gak papa ana ngertitapi jangan menangis seperti ini dong.., ana ikut sedih nih jadinya!!”, “maafkan ana ya ukhti.”, pinta Syafa sambil memeluk Lail, “takut ana punya salah sama ukhti”, “sudahlah ukhti, kita kan saudara, masak gak saling memaafkan!”, “oh.. iya.... ukhti tau gak tadikan aku yang membersihkan kamar gus Fahri, saat aku membersihkan tempat tidurnya di bawah bantalnya ada foto cewek dan asal ukhti tau foto iti adalah ukhti”, “apa...!!, gak mungkin buat apa gus Fahri menyimpan fotoku.??”, “mungkin saja gus Fahri mempunyai perasan yang sama dengan ukhti.”, perasaan Syafa tamba gak karuan, di sisi lain senang karena ternyata orang yang sangat ia kagumi menyimpan perasaan yang sama, di sisi lain Syafa juga sedih karena dia tidak akan dapat bersama gus Fahri karena dia juga sudah di jodohkan dengan putra teman abinya, Rizki Al-Ghifari.
            Keesokan harinya, Syafa membersihkan dhalem bersama Lail, dan seperti biasa Syafa membersihkan kamar gus Fahri, Syafa kaget karena di setiap kamar gus Fahri terdapat fotonya yang entah kapan gus Fahri mengambilnya, pelahan-lahan tapi pasti Syafa melihat semua, padahal kemarin saat dia membersihkan kamarnya gak ada satupun foto yang ada di dinding itu. “ukhti kenapa....??”, tanya gus Fahri yang tiba-tiba sudah berada di belakang Syafa, Syafa hanya menunduk tak berani sedikitpun memandang wajah yang sekarang ada di depannya. “Apa maksud semua foto ini gus.??”, tanya Syafa sambil menundukkan kepala, “seperti yang ukhti tau, ana jarang banget keluar kamar berhubungan langsung dengan lawan jenis, tapi setelah ana melihat ukhti entah perasaan apa yang ana rasakan ana mulai memberanikan diri untuk berhungan langsung dengan lain mahram, sebenarnya ana sudah lama menyimpan perasaan ini tapi setelah ana tau kalau ukhti sudah di jodohkan.”, gus Fahri diam sejenak, Syafa sudah tidak kuat membendung airmatanya, dia punlari kedalam kamarnya tak peduli tanpa menghiraukan gus Fahri melanjutkan perkataannya, dan tak peduli berapa banyak santri yang melihatnya menangis keluar dari kamar gus Fahri.
            Satu minggu kemudian, Lail mengetahui bahwa Rizki pria yang sangat di sayanginya telah di jodohkan oleh orang tuanya, “ukhti... ana gak tau ana harus bagaimana, ana sayang banget sama dia......”, Syafa merasa semakin bersalah sama Lail, “ukhti... dari semua masalah yang ana alami, ana masih mampu menghadapinya dengan senyuman, tapi ini masalah hati, masalah perasaan ana gak bisa menghadapi dengan senyuman...”, dia memikirkan gus Fahri yang sebenarnya sangat menyayanginya dan ia juga memikirkan sahabatnya Lail yang sedang kacau balau.
            Dua bulan kemudian, Lail mendapat undangan yang entah iapun gak tau dari siapa undngan itu, sesampainya di kamar Lail langsung membuka undangan itu. Lail kaget ternyata yang menikah adalah Syafa sahabatnya yang sebulan lalu boyong dari pesantren, Lail tambah kaget ketika melihat Syafa menikah dengan pria yang sangat ia cintai yaitu Rizki Al-ghifari, tanpa sadar lali meneskan airmatanya, tiba-tiba ada selembar kertas jatuh dari undangan yang di pegangnya,
To: Sahabat ku Lailatul Mufadila.
Assalamualaikum Wr Wb

Ukhti...... bagaimana kabarnya, ana harap ukhti baik-baik saja dan tetap dalam lindungan Allah. Afwan, mungkin ukhti akan kaget dengan datangnya surat ini, afwan ukhti ana gak cerita dari dulu kalau yang di jodohkan dengan Rizki itu adalah ana, ana sangat tertekan ukhti, Rizki dan ana juga gak mau menyakiti gus Fahri yang saat itu sangat mencintai ana, sekali lagi maafkan ana ukhti, mungkin saat membaca undangan ini ana sudah sah menjadi istri Rizki.

                                                         By : Naila As-Syafa.

     Tanpa sadar air mata lail mengalir begitu deras hingga membasahi kertas yang di pegangnya, “berbahagialah ukhti  aku yakin kau memang pantas menjadi istri yang patuh pada Rizki, semoga kau menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah Warohmah dan mendapat anak-anak yang sholeh- sholehah, Amiiiinnnn!!!!!!!!.

Chilmi_Audina/ Jurnalistik



Tag : CERPEN
0 Komentar "cerpen kisah cinta santri"

Back To Top