Kisi-Kisi Cintaku
Suatu hari di mana santri pondok
Al-Hidayah sedang sibuk dengan haul akbar yang di laksanakan rutin 1 tahun
sekali, berbeda dengan Syafa yang sedang memikirkan perkataan ibunya bahwa dia
sudah di jodohkan sama putra teman abinya, “abi sudah menjodohkanmu dengan
putra temannya yakni M Rizki Al-Gifari”tutur ibunya. “hey,,,, kenapa bengong
ada masalah atau jangan –jangan ukhti lagi kefikiran putra yai yang baru pulang
dari Kairo Mesir itu yac,,,,, ayo ngaku??” tiba-tiba Lail sudah ada di sampingku
sambil menggodaku, “ich,,,, apa sih ukhti ya gak lah, uk
hti kan sudah tau kalau ana ini siapa dan beliau itu siapa?”, “ya udah kalau begitu, ikut ana aja, di depan tuh masih banyak pekerjaan daripada ukhti bengong di sini gak jelas”.
hti kan sudah tau kalau ana ini siapa dan beliau itu siapa?”, “ya udah kalau begitu, ikut ana aja, di depan tuh masih banyak pekerjaan daripada ukhti bengong di sini gak jelas”.
Jam menunjukkan 21:00 dan acara haul
akbarpun usai dengan lancar seperti yang sudah di harapkan. 1 bulan setelah
haul akbar ternyata gus Fahri menyimpan rasa pa Syafa yang setiap pagi selalu
membersihkan dhalem, “ukhti boleh ana minta tolong?” tanya gus Fahri yang sedang
memandang Syafa dengan kagum, namun syafa hanya menunduk tak berani memandang
wajah tampan gus Fahri yang baru saja melewatinya. “Ya Allah apa yang hamba ini
rasakan kenapa hati ini begitu bergetar saat gus fahri lewat di depan hamba”, “
ukhti kenapa melamun, bukannya ana menyuruh membersihkan kamar ana”, tanpa di
sadari Syafa ternyata gus Fahri seadri tadi memperhatikan wajah Syafa, tanpa
menjawab dan tetap menunduk Syafa pergi ke kamar gus Fahri. Di dalam kamar,
Syafa menceritakan pada Lail bahwa ia sudah di jodohkan dengan putra teman
abinya yang baru menyelesaikan S1nya di Kairo, dan ia juga menceritakan kalau
ia menyukai gus Fahri yang tak lain adalah putra Kiainya sendiri, “ ukhti,,,,
yang sabar saja ya, ana yakin orangtua ukhti tidak akan memilih imam yang salah
buat ukhti, percayalah!!”, “ terimakasih ya ukhti, ukhti memang sahabat yang
baik”, “ ya sama-sama”, “ngomong-ngomong, gimana dengan hubungan ukhti dengan
Rizki, sepupu ukhti”, tanya syafa sambil menyeka airmata yang sedari tadi ia
coba menahan tapi tanpa sadar air matanya pun jatuh, “yaaah..... begitulah
ukhti!!”, jawab Lail sambil tersipu malu, “doakan saja semoga bisa sampai ke
pelaminan amin!!!!” .
Keesokan harinya, Lali melihat Syafa
tengah menangis di pangkuan ibunya setelah kepulangan ibunya, Syafa langsung
masuk kamar dengan mata sembab, “ ukhti..!!, kenapa menangis??, ada apa..
cerita dong sama ana”, Syafa hanya menggeleng sebagai isyarat dia belum bisa
cerita sekarang, “kalau memang ukhti belum bisa cerita sekarang ya.. gak papa ana
ngertitapi jangan menangis seperti ini dong.., ana ikut sedih nih jadinya!!”,
“maafkan ana ya ukhti.”, pinta Syafa sambil memeluk Lail, “takut ana punya
salah sama ukhti”, “sudahlah ukhti, kita kan saudara, masak gak saling
memaafkan!”, “oh.. iya.... ukhti tau gak tadikan aku yang membersihkan kamar
gus Fahri, saat aku membersihkan tempat tidurnya di bawah bantalnya ada foto
cewek dan asal ukhti tau foto iti adalah ukhti”, “apa...!!, gak mungkin buat
apa gus Fahri menyimpan fotoku.??”, “mungkin saja gus Fahri mempunyai perasan
yang sama dengan ukhti.”, perasaan Syafa tamba gak karuan, di sisi lain senang
karena ternyata orang yang sangat ia kagumi menyimpan perasaan yang sama, di
sisi lain Syafa juga sedih karena dia tidak akan dapat bersama gus Fahri karena
dia juga sudah di jodohkan dengan putra teman abinya, Rizki Al-Ghifari.
Keesokan harinya, Syafa membersihkan
dhalem bersama Lail, dan seperti biasa Syafa membersihkan kamar gus Fahri,
Syafa kaget karena di setiap kamar gus Fahri terdapat fotonya yang entah kapan
gus Fahri mengambilnya, pelahan-lahan tapi pasti Syafa melihat semua, padahal
kemarin saat dia membersihkan kamarnya gak ada satupun foto yang ada di dinding
itu. “ukhti kenapa....??”, tanya gus Fahri yang tiba-tiba sudah berada di
belakang Syafa, Syafa hanya menunduk tak berani sedikitpun memandang wajah yang
sekarang ada di depannya. “Apa maksud semua foto ini gus.??”, tanya Syafa
sambil menundukkan kepala, “seperti yang ukhti tau, ana jarang banget keluar
kamar berhubungan langsung dengan lawan jenis, tapi setelah ana melihat ukhti
entah perasaan apa yang ana rasakan ana mulai memberanikan diri untuk berhungan
langsung dengan lain mahram, sebenarnya ana sudah lama menyimpan perasaan ini
tapi setelah ana tau kalau ukhti sudah di jodohkan.”, gus Fahri diam sejenak,
Syafa sudah tidak kuat membendung airmatanya, dia punlari kedalam kamarnya tak
peduli tanpa menghiraukan gus Fahri melanjutkan perkataannya, dan tak peduli
berapa banyak santri yang melihatnya menangis keluar dari kamar gus Fahri.
Satu minggu kemudian, Lail
mengetahui bahwa Rizki pria yang sangat di sayanginya telah di jodohkan oleh
orang tuanya, “ukhti... ana gak tau ana harus bagaimana, ana sayang banget sama
dia......”, Syafa merasa semakin bersalah sama Lail, “ukhti... dari semua masalah
yang ana alami, ana masih mampu menghadapinya dengan senyuman, tapi ini masalah
hati, masalah perasaan ana gak bisa menghadapi dengan senyuman...”, dia
memikirkan gus Fahri yang sebenarnya sangat menyayanginya dan ia juga
memikirkan sahabatnya Lail yang sedang kacau balau.
Dua bulan kemudian, Lail mendapat
undangan yang entah iapun gak tau dari siapa undngan itu, sesampainya di kamar
Lail langsung membuka undangan itu. Lail kaget ternyata yang menikah adalah
Syafa sahabatnya yang sebulan lalu boyong dari pesantren, Lail tambah kaget
ketika melihat Syafa menikah dengan pria yang sangat ia cintai yaitu Rizki
Al-ghifari, tanpa sadar lali meneskan airmatanya, tiba-tiba ada selembar kertas
jatuh dari undangan yang di pegangnya,
To: Sahabat ku Lailatul Mufadila.
Assalamualaikum Wr Wb
Ukhti...... bagaimana kabarnya, ana
harap ukhti baik-baik saja dan tetap dalam lindungan Allah. Afwan, mungkin
ukhti akan kaget dengan datangnya surat ini, afwan ukhti ana gak cerita dari
dulu kalau yang di jodohkan dengan Rizki itu adalah ana, ana sangat tertekan
ukhti, Rizki dan ana juga gak mau menyakiti gus Fahri yang saat itu sangat
mencintai ana, sekali lagi maafkan ana ukhti, mungkin saat membaca undangan
ini ana sudah sah menjadi istri Rizki.
By : Naila
As-Syafa.
|
Tanpa sadar air mata lail mengalir begitu deras hingga
membasahi kertas yang di pegangnya, “berbahagialah ukhti aku yakin kau memang pantas menjadi istri
yang patuh pada Rizki, semoga kau menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah
Warohmah dan mendapat anak-anak yang sholeh- sholehah, Amiiiinnnn!!!!!!!!.
Chilmi_Audina/ Jurnalistik
Tag :
CERPEN

0 Komentar "cerpen kisah cinta santri"